Sabtu, 14 Januari 2012

PNUMONIA ( RADANG PARU - PARU )



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Pengertian
a.       Penyakit
Pneumonia ialah suatu radang  paru  yang  disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti : bakteri, virus, jamur dan  benda asing yang mengensi  jaringan paru (alveoli). (DEPKES.2006).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang  mencakup bronkiolus respirator ius dan alveoli, serta  menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. (Zuh Dahlan. 2006).
Pneumonia adalah suatu infeksi pada paru-paru, dimana par u-paru terisi oleh cairan sehingga ter jadi gangguan pernafasan. (www.medicastore.com).
Pneumonia adalah infeksi akut jaringan (parenkim) paru  yang ditandai dengan demam, batuk dan sesak napas. Selain gambaran  umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang  (Rontgen, Laboratorium).(Masmoki. 2007).
Pneumonia adalah radang paru-paru yang disebabkan oleh bermacam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Jadi kesimpulannya Pneumonia adalah radang paru yang dimana terdapat konsolidasi yang disebabkan pengisian rongga alveoli atau bronkus oleh eksudat yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

Ø Terjadinya Penyakit Pneumonia    
Cara penularan virus atau bakteri Pneumonia sampai saat ini belum diketahui pasti, namun ada beberapa hal yang memungkinkan seseorang beresiko tinggi terserang penyakit Pneumonia. Hal ini diantaranya adalah :   
1.      Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah seperti penderita HIV/AIDS dan para penderita penyakit kronik seperti sakit jantung, diabetes mellitus. Begitupula bagi mereka yang pernah/rutin menjalani kemoterapy (chemotherapy) dan meminum obat golongan Immunosupressant dalam waktu lama, dimana mereka pada umumnya memiliki daya tahan tubuh (Immun) yang lemah.   
2.      Perokok dan peminum alcohol.
Perokok berat dapat mengalami irritasi pada saluran pernafasan (bronchial) yang akhirnya menimbulkan secresi muccus (riak/dahak), Apabila riak/dahak mengandung bakteri maka dapat menyebabkan Pneumonia. Alkohol dapat berdampak buruk terhadap sel-sel darah putih, hal ini menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh dalam melawan suatu infeksi.
3.      Pasien yang berada di ruang perawatan intensive (ICU/ICCU).
 Pasien yang dilakukan tindakan ventilator (alat bantu nafas) 'endotracheal tube' sangat beresiko terkena Pneumonia. Disaat mereka batuk akan mengeluarkan tekanan balik isi lambung (perut) ke arah kerongkongan, bila hal itu mengandung bakteri dan berpindah ke rongga nafas (ventilator) maka potensial tinggi terkena Pneumonia.
4.      Menghirup udara tercemar polusi zat kemikal.
 Resiko tinggi dihadapi oleh para petani apabila mereka menyemprotkan tanaman dengan zat kemikal (chemical) tanpa memakai masker adalah terjadi irritasi dan menimbulkan peradangan pada paru yang akibatnya mudah menderita penyakit Pneumonia dengan masuknya bakteri atau virus.       
5.      Pasien yang lama berbaring.
 Pasien yang mengalami operasi besar sehingga menyebabkannya bermasalah dalah hal mobilisasi merupakan salah satu resiko tinggi terkena penyakit Pneumonia, dimana dengan tidur berbaring statis memungkinkan riak/muccus berkumpul dirongga paru dan menjadi media berkembangnya bakteri.
b.      Herbal
Istilah Herbal biasanya dikaitkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayu atau tanaman yang bersifat perdu. Dalam dunia pengobatan, istilah herbal memiliki makna yang lebih luas, yaitu segala jenis tumbuhan dan seluruh bagian-bagiannya yang yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang dapat dipakai sebagai obat (therapeutic).
Ø  Herbalogi
Herbalogi berasal dari kata ‘Herba’ yang berarti tumbuhan dan ‘logi’ atau ‘logos’ yang berarti ilmu. Dengan demikian Herbalogi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkait dengan tumbuh-tumbuhan. Dalam dunia pengobatan herbalogi dipahami sebagai sebuah konsep atau metode pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari herba (tanaman obat).
Ø  Konsep Pengobatan Herbal
1.      Pendekatan yang dipakai bersifat holistic.
 Tubuh manusia dipandang memiliki suatu system harmoni yang selalu seimbang; tidak berfungsinya satu bagian tubuh menyebabkan ketidakseimbangan dibagian tubuh yang lain. Jika tubuh tidak mampu melakukan penyeimbangan kembali seperti keadaan semula, maka akan tibul suatu penyakit. Salah satu tujuan dari pengobatan herbal adalah membantu tubuh mengembalikan keharmonisan atau keseimbangan tubuh.
2.      Selain dari faktor eksternal,
pengobatan herba memahami bahwa dari dalam diri manusia terdapat kekuatan penyembuh yang datang dari faktor Spiritual, emosional, mental, dan fisikal. Kekuatan penyembuh tersebut dalam dunia medis modern dikenal dengan Sistem Imun.
3.      Sistem Imun menjadi penentu utama sehat atau sakitnya seseorang.
Herbalogi menaruh perhatian besar terhadap masalah imunity tersebut. Sehingga tujuan pengobatan adalah diarahkan untuk “Improve and maintain body immune system against external pathogen and pressure”.


4.      Menggunakan semurni-murninya bahan dari herba sebagai obat, tanpa tambahan zat kimia sintetis.
Perbedaan Pengobatan Herbal dengan Pengobatan Kimia Sintetis
Konsep Pengobatan Herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan Modern (yang biasanya menggunakan Kimia Sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organisme pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, penyebab penyakit adalah lemahnya system imun.

2.      Data
Pneumonia atau penyakit radang paru merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi setiap tahunya.World health organitation (WHO) memperkirakan kejadian pneumonia ditiap negara dengan angka kematian bayi 40/1000 kelahiran hidup adalah 15% sampai 20% pertahun pada golongan usia balita. Kasus pneumonia di sukabumi sepanjang tahun 2005 sebanyak 4336 kasus. Tingginya kasus pneumonia di sukabumi disebabkan prilaku ibu balita yang tidak sehat. Kondisi fisik rumah yang kurang memenuhi syarat kesehatan juga mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya pneumonia bagi penghuninya terutama balita.
Data yang diperoleh dari WHO dan UNICEF 50 persen dari pneumonia disebabkan oleh kuman ‘sterptokokus pneumonia’ (IPD) dan 30 persen oleh Haemophylus Influenza type B (HIB), sisanya oleh virus dan penyebab lain secara global, sekitar 1,6 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh penyakit ‘streptokokus pneumonia’, didalamnya 700.000 hingga 1 (satu) juta balita terutama berasal dari Negara berkembang. Secara nasional angka kejadian pneumonia belum diketahui secara pasti data yang ada baru berasal dari laporan Subdit ISPA Ditjen P2M-PL Depkes RI tahun 2007 dari 31 provinsi ditemukan 477.429 balita dengan pneumonia atau 21,52 persen dari jumlah seluruh balita di Indonesia.



3.      Epidemiologi
Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumococcus dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan  pneumonia pada orang dewasa lebih dari 80%, sedangkan  pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6  dan 9. Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang  dari 4 tahun dan mengu¬rang dengan  meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh Pneumococcus, ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.
Pneumonia adalah penyakit umum di semua bagian dunia. Ini adalah penyebab utama kematian di antara semua kelompok umur. Pada anak-anak, banyak dari kematian ini terjadi pada masa neonatus. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa satu dari tiga kematian bayi baru lahir disebabkan pneumonia. Lebih dari dua juta anak balita meninggal setiap tahun di seluruh dunia. WHO juga memperkirakan bahwa sampai dengan 1 juta ini (vaksin dicegah) kematian yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus''''pneumoniae, dan lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di negara-negara berkembang. Kematian akibat pneumonia umumnya menurun dengan usia sampai dewasa akhir. Lansia individu, bagaimanapun, berada pada risiko tertentu untuk pneumonia dan kematian terkait. Karena beban yang sangat tinggi penyakit di negara berkembang dan karena kesadaran yang relatif rendah dari penyakit di negara-negara industri, komunitas kesehatan dunia telah menyatakan untuk November 2 Hari Pneumonia Dunia, sehari untuk warga yang prihatin dan pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan terhadap penyakit.
5.      Demografi
Pneumonia merupakan penyebab kematian tunggal pada anak terbesar di seluruh dunia. Setiap tahun, pneumonia membunuh sekitar 1,8 juta anak di bawah 5 tahun, atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia. Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat AIDS, malaria dan campak digabungkan. Terdapat sekitar 155 juta kasus pneumonia di seluruh dunia setiap tahunnya.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi kejadiannya diIndonesia, data -data dibawah adalah data hasil survey tentang pneumonia,dengan responden yang berbeda-beda, misalnya studi morbiditas, dan hasilpengumpulan data dari Dinas kesehatan kabupaten kota/kota serta dari saranapelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistempencatatan dan pelaporan. Gambaran 10 besar penyakit pada pasien rawat jalandi Rumah sakit pada tahun 2006, adalah 9,32% kunjungan merupakan kasusISPA dengan nominal 96.046 orang. Sedang Data tahun 2006 dari 10 penyakitutama pasien rawat inap di rumah sakit, pneumonia menduduki peringkat ke 8dengan kode DTD(169) dan kode ICD(J12J18) dalam persen 1,69, dan nominPneumonia merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi kejadiannya diIndonesia, data -data dibawah adalah data hasil survey tentang pneumonia,dengan responden yang berbeda-beda, misalnya studi morbiditas, dan hasilpengumpulan data dari Dinas kesehatan kabupaten kota/kota serta dari saranapelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistempencatatan dan pelaporan. Gambaran 10 besar penyakit pada pasien rawat jalandi Rumah sakit pada tahun 2006, adalah 9,32% kunjungan merupakan kasusISPA dengan nominal 96.046 orang. Sedang Data tahun 2006 dari 10 penyakitutama pasien rawat inap di rumah sakit, pneumonia menduduki peringkat ke 8dengan kode DTD(169) dan kode ICD(J12J18) dalam persen 1,69, dan nominal 373.364orang.
Laporan Riskesdas Indonesia tahun 2007 menyebutkan prevalensi pneumoniamenurut diagnosa  dan gejala adalah 2,13% ( rentang 0,8% - 5,6%). Sedang pada analisa lanjut ini menunjukan  prevalensi penderita pneumonia sebesar 2,2 %  75 atau ada 2.200 penderita pneumonia pada 100.000 penduduk,dan rentang nilai prevalensi(0,7%-5,8%).















BAB II
PEMBAHASAN

1.      Gejala Klinis
Gejala yang berhubungan dengan pneumonia termasuk batuk, sakit dada, demam, dan kesulitan bernafas. Sedangkan tanda-tanda menderita Pneumonia dapat diketahui setelah menjalani pemeriksaan X-ray (Rongent) dan pemeriksaan sputum
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.
Gejala yang terlihat pada infeksi paru-paru adalah dyspnoe (kesulitan bernafas) terutama pada saat menarik nafas. Nafas menjadi cepat dan dangkal. Anjing kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup karena jaringan paru-paru terisi oleh cairan, sehingga menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi. Lidah, gusi dan bibir mungkin terlihat kebiruan atau abu-abu (cyanosis) sebagai indikator kurangnya oksigen dalam darah. Temperatur tubuh biasanya meningkat (Foster dan Smith, 2004). Menurut Subronto (1995), mengatakan bahwa tidak semua proses keradangan diikuti dengan kenaikan suhu tubuh. Kenaikan suhu tubuh pada umumnya tidak dijumpai pada pneumonia yang berlangsung secara kronik, selain itu pneumonia verminosa juga tidak biasa diikuti dengan kenaikan suhu tubuh bisa berupa Gejalanya:
·         Menggigil
·         Demam
·         Batuk (bisa kering atau berdahak)
·         Sakit kepala
·         Otot terasa sakit dan kaku
·         Pernafasan cepat
·         Sesak nafas
·         Nafsu makan berkurang
·         Merasa tidak enak badan
·         Ruam (terutama jika penyebabnya adalah mikoplasma)
·         Diare (terutama jika penyebabnya adalah legionella).

2.      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik (physical ecxamination) menurutnya adalah “Cara pengumpulan data melalui inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan pemeriksaan fisik lainya”, seperti pengukuran CRT (cappilary refilling timing).
Menurut Laode Jumadi Gaffar, 1999:59, “Inspeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan pasien”, seperti inspeksi kesimetrisan pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu nafas, inspeksi adanya lesi atau rash pada kulit dan sebagainya. Sedang “Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan jalan mengetuk jari tengah ke jari lainnya untuk mengetahui normal/tidaknya suatu organ tubuh”. “Palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara meraba pasien”. “Auskultasi  adalah cara pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop”
Bagian yang perlu dikaji untuk kasus pneumonia adalah tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, keadaan umum, berat badan, tinggi badan, kepala, dada terutama paru, abdomen serta ekstremitas. Pemeriksaan fisik dilakukan secara inspeksi, palpasi, aukultasi dan perkusi ,yaitu sebagai berikut :

.a.   Inspeksi
Penderita tampak sangat sakit, berkeringat, panas tinggi dan menggigil. Oleh karena nyeri dada, maka penderita berusaha memfiksir hemithoraks yang sakit. Gerakan respirasi pada bagian yang sakit tertinggal. Pada bayi sering terjadi sianosis. Kesulitan bernafas diwujudkan dalam cuping hidung yang melebar, retraksi-retraksi pada daerah supraklavikuler, ruang-ruang interkostal dan subkostal. Bisa ditemui adanya abdomen dan pembesaran hati terlihat.
b.   Palpasi
Ditemukan keredupan dan getaran suara yang berkurang. Fremitus raba meningkat pada sisi yang sakit.
c.        Auskultasi
                  Pada bayi ditemukan adanya suara nafas yang berkurang serta ronki halus pada sisi yang sakit. Pada sisi paru yang berlawanan suara respirasi mungkin terjadi berlebihan dan hampir bersifat tubuler. Suara lain yang mungkin ditemukan pada anak yaitu suara nafas bronkhial, ronkhi basah halus, bronkofoni dan whispered pectoriloquoy, kadang terdengar bisik gesek pleura.
d.      Perkusi
Pada daerah sakit ditemukan keredupan. Jika ditemukan pada bayi, harus dicurigai adanya efusi pleura atau empiema.

3.      Pemeriksaan Penunjang
Jika pneumonia diduga berdasarkan gejala pasien dan temuan dari pemeriksaan fisik, penyelidikan lebih lanjut  diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis ini. Informasi tambahan dari rontgen dan tes darah mungkin diperlukan, begitu pula dari kultur mikroorganisme pada dahak. Rontgen pada  dada biasanya digunakan untuk diagnosa di beberapa rumah sakit dan klinik dengan fasilitas rontgen. Namun, dalam prakteknya, pneumonia biasanya didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik saja. Mendiagnosis pneumonia bisa sulit pada beberapa orang, terutama orang-orang yang mengidap penyakit lainnya. Sesekali CT scan pada dada atau tes lainnya mungkin diperlukan untuk membedakan pneumonia dengan penyakit lainnya
1)      Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses)
2)      Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
3)      Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
4)       Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5)      Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6)      Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
7)      Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing

4.      Deferensi Diagnosis
Penyakit ini biasanya memiliki tanda dan gejala yang sama dengan penyakit saluran pernafasan lainnya seperti
1.      Asma Bronkial
   Asma bronkial (dalam bahasa inggris asthma bronchiale) adalah nama untuk suatu kondisi dimana paru-paru (rongga bronkhial) menjadi meradang dan menjelaskan sebuah keadaan kronis pada saluran pernafasan. Beberapa gejala umum asma bronkial termasuk sesak nafas, mengi (suara berderak-derak ketika menghembuskan napas), batuk kering dan perasaan ketat pada dada. Gejala ini sering memburuk selama tidur. Serangan asma adalah suatu perburukan akut dari gejala tersebut dan pada kasus berat, serangan bisa mengancam jiwa sebab onset sering tiba-tiba dan tanpa peringatan. Estimasi populasi dunia yang menderita asma bronkial sekitar 7%.
2.      Tuberkolosis  Paru
Tuberculosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, diantaranya adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajad rendah, nyeri dada dan batuk darah. (Mansjoer, Arief, 473:2001)
3.      Bronkitis
BRONKITIS (Bronchitis) adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru).
4.      Flu
Pilek merupakan gejala yang timbul akibat flu. Flu atau influenza disebabkan oleh virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus masuk ke dalam tubuh makhluk hidup kemudian menggunakannya sebagai tempat untuk berkembang biak. Virus ditularkan ke orang lain melalui butiran cairan dari air liur atau lendir yang dikeluarkan saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Virus segera menyebar bersamaan dengan cairan yang dikeluarkan. Udara menjadi media penyebaran virus dan jika Anda menghirup udara tersebut dengan kondisi tubuh yang tidak fit dapat membuat Anda terjangkit flu.
5.      Batuk (Baik Kering Maupun Berdahak )
Batuk adalah refleks fisiologis yang biasa terjadi  pada saluran pernapasan  orang sehat maupun sakit. Namun batuk juga merupakan  suatu penyakit yang dapat menyebabkan gejala yang serius di dalam paru-paru. Apabila peyakit  itu sudah memuncak, si sakit akan mengalami  serangan batuk yang berulang-ulang. Ini sering berakhir dengan tarikan napas panjang dan dalam , dengan  disertai bunyi  yang melengking. Batuk yang  tidak berat biasanya  akan sembuh  tanpa menimbulkan  kerusakan yang permanen, tetapi penyakit tersebut tetap harus dicegah atau diatasi sedini mungkin. Pencegahan dan penyembuhan yang tepat sangat diperlukan, terutama pada anak-anak yang sudah lemah karena adanya komplikasi dengan penyakit lain.










Bab III
MANAJEMEN PENANGANAN

1.      Penanganan Secara Medis
Terapi yang diberikan pada pasien pnemonia adalah terapi kausal (penyebab) terhadap kuman penyebab sebagai terapi utama, serta terapi suportif umum.  Terapi kausal misalnya antibiotik secara empiris seperti ampislin-sulbaktam, amoksisilin/asam klavulanat, sefalosporin generasi II pada pnemonia komunitas, sefalosporin generasi III atau antipseudomonas pada pnemonia nosokomial, antijamur golongan azol pada pnemonia karena jamur, kotrimoksazol atau dapson pada pnemonia karena P.carinii, serta makrolid, doksisiklin atau fluorokuinolon pada pnemonia atipik.
Adapun terapi suportif yang diberikan disesuaikan dengan keadaan pasien, misalnya pemberian terapi O2 (oksigen),  terapi inhalasi  pada dahak yang kental, fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, pengaturan cairan, dan terapi lain yang dibutuhkan.

2.      Penanganan Asuhan Keperawatan
1.      Data dasar pengkajian pasien:
·      Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
·      Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
·      Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
(malnutrisi)
·       Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
·      Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)
·      Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda : sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
·         Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
·         Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
3.      Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
4.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
5.      Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
6.      Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
7.      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral.





3.       RENCANA KEPERAWATAN
1.      Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,peningkatan produksi sputum ditandai dengan:
2.      Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan
- Bunyi nafas tak normal
- Dispnea, sianosis
- Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.
Jalan nafas efektif dengan kriteria
- Batuk efektif
- Nafas normal
- Bunyi nafas bersih
- Sianosis
Intervensi:
a. Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada
Rasional : takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan.
b.Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas
Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
c. Biarkan teknik batuk efektif
Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.

d.                        Penghisapan sesuai indikasi
Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
e.  Berikan cairan sedikitnya
Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik, eks.
Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret, analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.
3.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan:
- Dispnea, sianosis
- Takikardia
- Gelisah/perubahan mental
- Hipoksia
                                    Gangguan gas teratasi dengan:
- Sianosis
- Nafas normal
- Sesak
- Hipoksia
- Gelisah
Intervensi:
a.        Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas
Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
b.      Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral.
Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.
c.       Kaji status mental.
Rasional: gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral.
d.      Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
e.        Kolaborasi
Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master, master venturi.
Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe.

4.      Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
Tujuan:
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria:
- waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa
- penularan penyakit ke orang lain tidak ada
Intervensi:
a.       Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
Rasional: selama awal periode ini, potensial untuk fatal dapat terjadi.
b.      Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.
c.       Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain
Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.
d.      Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah
e.       Kolaborasi
Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin, sepalosporin, amantadin.
Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen ditandai dengan:
- Dispnea
- Takikardia
- Sianosis
Intoleransi aktivitas teratasi dengan:
- Nafas normal
- Sianosis
- Irama jantung
   Intervensi
a.       Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan.
b.      Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut
sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
c.       Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
d.      Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi.
e.       Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
5.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan:
- Nyeri dada
- Sakit kepala
- Gelisah
Nyeri dapat teratasi dengan:
- Nyeri dada (-)
- Sakit kepala (-)
- Gelisah (-)
   Intervensi:
a.       Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk.
Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endocarditis.
b.      Pantau tanda vital
Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri,
khusus bila alas an lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat.
c.       Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, music tenang  berbincangan.
Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik.
d.      Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.
e.       Kolaborasi
Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi
Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum.
6.       Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan:
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan:
- Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
- Pasien mempertahankan meningkat BB
Intervensi
a.       Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.
Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
b.      Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan
Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini
c.       Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien.
Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
d.      Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi.
7.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor
kulit baik, tanda vital stabil.
Intervensi:
a.       Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia.
Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi.
b.      Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan.
c.       Catat laporan mual/muntah
Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral
d.      Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.
Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.
e.       Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual
Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.
f.        Kolaborasi
Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.
Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan
g.      Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan
Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan
penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan
5.      IMPLEMENTASI
Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan.
6.      EVALUASI
Kriteria keberhasilan:
- Berhasil
Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan
- Tidak berhasil
Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan.





3.      Penanganan secara herbal
1.         Bawang putih
2.         Jahe
3.         Daun sirih
4.         Jeruk nipis
5.         Daun sambiloto

Ø  Komposisi herbal
1.      Bawang putih mengandung komposisi
Bawang putih mengandung minyak atsiri, yang bersifat anti bakteri dan antiseptik. Kandungan allicin dan aliin berkaitan dengan daya anti kolesterol. Daya ini mencegah penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan lain-lain. Umbi batang mengandung zat-zat:
1. Kalsium : bersifat menenangkan sehingga cocok sebagai pencegah hipertensi.
2. Saltivine : bisa mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan serta merangsang   susunan sel saraf.
3. Diallysulfide, alilpropil-disulfida : anti cacing.
4. Belerang
5. Protein
6. Lemak
7. Fosfor
8. Besi
  9. Vitamin A, B1 dan C.


Ø  Manfaat Bawang Putih
Bawang putih dapat digunakan untuk pengobatan alternatif sebagai berikut :
a.       Bawang putih Flu dan Batuk. Kandungan sulfur yang terkandung dalam bawang putih membuatnya memiliki bau dan rasa yang khas dapat meningkatkan dan mempercepat kegiatan membran mucous di saluran pernapasan, yang membantu melegakan pemampatan dan mengeluarkan lendir. Bawang putih mentah mengandung phytochemical yang dapat membantu membunuh bakteri dan virus penyebab penyakit. Pada tahun 1992, peneliti dari Universitas Brigham Young di Utah melaporkan bahwa bawang tumbuk dalam minyak membunuh bukan hanya membunuh rhinivirus tipe 2 (penyebab umun flu), tetapi juga membunuh 2 macam herpes (penyakit kulit menular) dan beberapa virus umum lainnya.
Bagaimana cara memanfaatkannya? Makanlah bawang putih sebanyak-banyaknya segera setelah anda merasa sakit atau tambahkan bawang putih pada masakan. Anda juga dapat membuat obat batuk dengan resep ini : Hancurkan bawang dan masukan ke dalam susu dingin di dalam panci, lalu panaskan sekitar 1-2 menit, dan minum hangat-hangat.
b. Bawang Putih dan Kolesterol Sekarang ada lebih dari 12 studi yang dipublikasikan di seluruh dunia yang memastikan bahwa bawang putih dalam berbagai bentuk dapat menurunkan kolesterol. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bawang ini dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung. Salah satu studi yang dipublikasikan di “The Journal of The Royal College of Physicians” oleh Silagy CS dan Neil HAW tahun 1994 menyebutkan bahwa bawang putih merupakan agen untuk mengurangi lemak. Penulis menyatakan bahwa suplemen bawang merupakan bagian terpenting dalam penyembuhan kolesterol tinggi. Menurutnya, secara keseluruhan, penurunan terjadi sebesar 12 % dari total kolesterol. Penurunan ini terjadi setelah 4 minggu perawatan.
c.   Bawang Putih dan Kanker
Bawang juga mempunyai kandungan untuk memerangi kanker, terutama    kanker perut dan usus besar. Organosulfida yang terkandung dalam bawang putih membantu hati memproses senyawa kimia beracun, termasuk senyawa kimia yang menyebabkan kanker beberapa penelitian epidemiologis menunjukan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi bawang putih lebih rendah resikonya terkena kanker perut dan usus besar. Untuk memastikan bahwa anda akan mendapatkan hasil yang maksimal, peneliti dari Penn State Unipersity merekomendasikan untuk membiarkan dulu potongan atau tumbukan bawang selama paling sedikit 10 menit, memberi waktu bawang itu membentuk kandungan-kandungan yang membantu memerangi kanker.
e.       Bawang Putih dan Kehamilan
Riset terbaru menunjukkan bahwa menkonsumsi bawang putih selama kehamilan mengurangi resiko komplikasi kehamilan pre-eclampsia (meningkatkan tekanan darah kandungan protein dalam urine). Studi–studi juga mengungkapkan bahwa bawang putih juga membantu menaikkan lambatnya berat badan bayi yang terlalu kecil. Riset dilakukan oleh Dr. D. Sooranna, Ms J. Hirani dan Dr. I Das di Academic Department of Obsterrics dan Gynaecology, Chelsea dan Westminster Hospital in London UK. Mereka menyimpulkan bahwa walaupun pre-eclampsia dan kelambatan pertumbuhan merupakan kondisi yang kompleks, mengkonsumsi tablet bawang putih secara standar selama masa kehamilan dapat mengurangi kemungkinan–kemungkinan komplikasi pada kelahiran. Mereka memfokuskan pada kelambatan pertumbuhan pada bayi dan pre-eclampsia, kondisi yang sangat berbahaya bagi ibu dan anak yang terjadi pada kira–kira satu diantara sepuluh kehamilan.Eksperimen menunjukkan bahwa menambahkan ekstrak bawang putih pada sel–sel plaasenta yang kemungkinan menderita kondisi–kondisi tersebut terbukti dapat menstimulasi pertumbuhan. Lebih jauh lagi, kegiatan enzim–enzim penting yang berkurang pada kehamilan tidak normal juga sangat meningkat dengan diberikannya bawang putih.
f.       Sebagai Penyembuh Wasir
  Pertama bersihkan dulu daerah anus dan sekitarnya dengan air hangat dan sabun, oleskan jus/beberapa siung bawang putih yang sudah dimemarkan sebanyak 3-5 kali pada anus yang telah dibersihkan, tunggu beberapa menit lalu bersihkan.
g.      Meningkatkan Stamina
Setelah dikaji secara mendalam, ternyata bawang putih dapat menjadi sumber stamina dan kekuatan fisik yang tinggi. Walaupun sebelumnya mereka jarang sekali sakit, tiba-tiba mereka mudah terserang flu, orang – orang seperti inilah yang terutama membutuhkan daya pembangun stamina yang terdapat di bawang putih. Orang-orang yang mudah lelah seharusnya menambah stamina mereka dengan makan sedikit bawang putih setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Caranya, bisa kita campurkan dalam olahan masakan kita dan menelannya.
g.  Mengontrol Gejala Diabetes
      Diabetes mellitus adalah suatu penyakit bawaan yang ditandai oleh tak cukupnya insulin di dalam tubuh, sebagai akibat kelebihan gula di dalam darah dan urine, serta kelaparan yang hebat dan kehausan. Penderitanya selalu ingin makan yang manis-manis, dan walaupun ia suka makan yang manis-manis dan makanan lainnya, berat badan cenderung berkurang. Gejala utamanya, menurunnya daya tahan tubuh terhadap kuman dan bakteri gangguan kulit serta berkurangnya gairah seksual, penyakit usus dan pembuluh darah. Penggunaan bawang putih secara bijaksana dalam diet merupakan salah satu cara mendapatkan manfaat terbesar dari makanan yang dimakan dengan demikian menyumbang pada kondisi tubuh yang baik.
Ø  Cara pembuatannya
Bahan: 3 siung bawang putih, 1 sendok makan madu dan gula batu
secukupnya;
Cara membuat: bawang putih ditumbuk halus, kemudian dioplos
bersama bahan lainnya sampai merata dan diperas/disaring;
Cara menggunakan: diminum setiap pagi sampai sembuh.




2.      Komposisi dari jahe
Minyak atsiri zingiberena (zingirona), zingiberol, bisabolena, kurkumen, gingerol, filandrena, dan resin pahit.Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol. Rimpang jahe juga mengandung minyak damar, mineral sineol, fellandren, kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigerol (misalnya di bagian-bagian merah), zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe berwarna kuning dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren, dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.
Ø  Khasiat jahe
Menurunkan darah tinggi
Jahe dapat memperlebar pembuluh darah dan merangsang pelepasan hormon adrenalin. Akibatnya, darah dapat mengalir cepat dan lancar sehingga darah tinggi bisa teratasi.
Memperlancar proses pencernaan
Kandungan enzim protease dan lipase dapat membantu mencerna protein dan lemak dalam tubuh.
Membersihkan darah kotor
Jahe dapat membersihkan darah kotor sehingga dikeluarkan dari tubuh, dan juga meningkatkan produksi keringat sehingga menjadikan orang yang mengkonsumsinya lebih sehat.
Menambah nafsu makan
Kandungan minyak gingerol dalam jahe dapat memblok serotonin, hormon yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga menambah nafsu makan, memperkuat otot usus, mengatasi batuk, dan banyak lagi manfaat lain.
Mencegah penggumpalan darah
Dengan kandungan gingerol yang menjadi antikoagulan, jahe juga dapat mencegah penggumpalan darah.
Mencegah radikal bebas
Antioksidan dalam jahe bisa menetralkan radikal bebas, yang berarti mengurangi resiko penuaan dini.

Ø  Pembuatan ramuan jahe
Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan direbus dalam air mendidih selama lebih    kurang ½ jam, kemudian airnya dapat diminum sebagai obat

3.      Komposisi dari daun sirih
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur.
Ø  Khasiat daun sirih
Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan  dan khasiat lain seperti  menghilangkan batuk, sariawan, bronchitis, jerawat, keputihan, sakit gigi,demam berdarah, bau mulut, asma, radang tenggorokan, gusi bengkak, membersihkan mata,dan bau ketiak.

Ø  Cara pembuatan ramuan
Rebus tujuh lembar daun sirih yang telah dicuci bersih bersama sepotong gula batu dalam dua gelas air bersih. Tunggu sampai tersisa menjadi satu gelas. Minum tiga kali sehari masing-masing sepertiga gelas.

4.      Komposisi dari Jeruk nipis
Pada umumnya masyarakat sudah banyak mengetahui akan kandungan vitamin C nya yang cukup besar tersebut. Namun ternyata masih banyak lagi kandungan-kandungan dari buah ini seperti halnya mineral yang dikandungnya. Dalam penelitian menunjukkan pada setiap 100 gram buah jeruk terdapat :
  - asam askorbat 49 mg
  - besi 0,4 mg
  - fosfor 23 mg
  - kalsium 33 mg
  - mineral 0,5 g
  - karbohidrat 11,4 g
  - lemak 0,2 g
  - protein 0,9 g- kalori 51 kal, Dll
            Ups masih banyak lagi ternyata, dalam penelitian tersebut juga menunjukkan kandungan lain yang di dalamnya seperti vitaim B1, belerang, asam sitrun, glikosida, damar, minyak atsiri (meliputi : nildehid, aktilaldehid, linali-lasetat, gerani-lasetat, kadinen, lemon kamfer, felandren, limonen, sitral), asam amino (lisin, triptofan), asam sitrat,.
Ø  khasiat jeruk nipis
Khasiat jeruk nipis yaitu untuk mengobati amandel,sakit batuk,ambeien,influenza,batu ginjal,defteri,demam atau flu,tekanan darah tinggi,dating bulan yang tidak teratur,radang tenggorokan,kurap,vertigo,sakit gigi,pegal linu,setamin.mengurangi rasa cape.
Ø  Cara pembuatan ramuan
Potong 3 buah jeruk nipis masak, lalu peras. Seduh air perasannya dengan 1/2 cangkir air panas, tambahkan 1 sendok makan madu sambil diaduk rata. Selagi hangat, gunakan ramun ini untuk berkumur selama 2-3 menit. Lakukan 3 kali sehari.
5.      Komposisi dari daun Sambilo
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : : Herba ini rasanya pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan usus kecil. KANDUNGAN KIMIA : Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Flavotioid diisolasi terbanyak dari akar, yaitu polimetoksiflavon, andrografin, pan.ikulin, mono-0- metilwithin, dan apigenin-7,4- dimetileter. Zat aktif andrografolid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektbr (melindungi sel hati dari zat toksik).

Ø  Khasiat daun sambiloto
Untuk mengobatin penyakit Hepatitis, infeksi saluran empedu, disentri basiler, tifoid, diare, influenza, radang amandel (tonsilitis), abses paru, malaria, radang paru (pneumonia), radang saluran nafas (bronchitis), radang ginjal (pielonefritis), radang telingah tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi, demam, kencing nanah (gonore), kencing manis (diabetes melitus), TB paru, skrofulderma, batuk rejan (pertusis) sesak nafas, leptospirosis, darah tinggi, kusta, keracunan jamur, keracunan singking, keracunan tempe bongkrek, keracunan makanan laut. Kanker, penyakit trofoblas, kehamilan anggur (mola hidatidosa)  tumor paru.
Ø  Cara pembuatan ramuan
Bubuk kering herba sambiloto 4,5 gr diseduh dengan air panas. Setelah dingin,   tambahakan madu secukupnya. Minum sekali.





BAB  IV
DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius

Alsagaff, hood,abdul mukty.2006.Dasar-dasar ilmu penyakit paru.Surabaya.Air Langga University Press.
Onions-A global benefit to health.2002. Phytotherapy Research, 16(7):603-615)http://onlinelibrary.wiley.com/doi/doi/10.1002/ptr.1222/qbstract
"Seaweed and Soy: Companion Foods in Asian Cuisine and Their Effects on Thyroid Function in American Women".2007. Journal of Medical Food, 10(1): 90-100

1 komentar:

  1. informasi bagus buat saya yang selalu membutuhkan informasi tentang kesehatan terimakasih ya,saya juga menjual obat herbal terbuat dari mangis bai untuk meningkatkan daya taha tubuh.

    BalasHapus